[Ficlet] Tear Drops in The Rain

55895074

Title : Tear Drops in The Rain | Scriptwriter : Songhyun

Main Cast : Mark GOT7 as Mark, and a Girl

Genre : Romance, Sad, Angst

Duration : Ficlet  | Rating : Teen

.

“Jangan menawarkan pertemanan padaku.

Kau tahu pasti aku tak akan bisa menerimanya.”

Mark.

.

 

 

Inspired by Minhyuk CNBlue – Tear Drops in The Rain

.

.

 

“Teman?”

Gadis bersurai hitam itu mengangsurkan tangan kanannya ke depan Mark, membuat pria bersetelan rapi tersebut menoleh sesaat. Namun alih-alih menjabat jemari putih nan lentik itu, Mark lebih memilih menjangkau secangkir espresso. Menyesap sedikit cairan pekat pahit tersebut lalu meletakkan wadahnya ke atas meja kembali.

“Mark.”

Perempuan itu merajuk. Tangannya masih menggantung di udara, menunggu sambutan pria tampan di hadapannya. Sementara Mark sendiri malah asyik memandangi jendela untuk melihat hujan lebat yang sedang terjadi. Ini buruk, pikirnya.

Sejak menerima telepon berisi ajakan bertemu dari gadis itu, Mark sudah menduga bahwa seharusnya ia tak datang kemari. Dan ternyata instingnya benar.

“Mark.”

Sekali lagi, nama Mark dipanggil. Gadis itu masih dalam posisi yang sama. Mark mendesis lalu menyingkirkan tangan gadis itu dengan sebuah ayunan tangan.

“Kau mengetahuinya dengan pasti. Aku tak mungkin berteman denganmu. Jika kau sudah selesai mengatakan semuanya, aku akan pergi. Banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan.”

Baru saja Mark meraih mantel tebal yang tersampir di kursi ketika kedua tangan gadis itu menghambatnya. Mark menatap tajam pada telapak tangannya yang kini berada dalam genggaman gadis itu. Si perempuan yang merasa tak nyaman akhirnya melepaskan tangannya dari Mark dan beralih memilin ujung kardigan berwarna marun yang dikenakannya.

“Aku ingin kita putus baik-baik, Mark. Itulah kenapa aku mengajukan pertemanan. Aku tak ingin kita berakhir dengan saling membenci.”

Matanya berkaca-kaca. Lain dengan Mark yang dipenuhi kilatan amarah. Membuat Mark merasa menjadi tokoh antagonis di sini. Begitukah?

“Putus baik-baik?”

Mark tersenyum miris. Meski sejujurnya, rentetan kata yang keluar dari mulut gadis itu selama 30 menit ini tak ada satu pun yang membahagiakan dan layak untuk dihadiahi senyuman.

“Bagaimana bisa jika jelas-jelas kau membuat keputusan secara sepihak?” Mark bertanya dengan berat.

Dadanya rasanya nyeri sekali. Mark sudah sering mendengar cerita seputar sakit hati dari teman-temannya atau sekedar menonton kisahnya dari drama. Pun kerap menikmati lagu yang bertemakan patah hati. Tapi Mark tidak menduga jika rasanya ternyata sampai separah ini. Menghadapi kenyataan bahwa perempuan yang ia cintai sepenuh jiwa ternyata tak memiliki perasaan yang sebanding bahkan sudah menyerah dan berhenti memupuk perasaan itu, membuatnya merasa begitu tidak berharga dan ingin menangis.

Ayahnya selalu mengajari Mark bahwa lelaki tak boleh menangis apalagi di depan wanita. Tak ingin menjadi anak durhaka, Mark selalu mengingat nasehat ini dengan baik bahkan menjadikannya sebagai prinsip hidup. Karena itulah, saat ini Mark membentuk benteng kuat untuk membendung air matanya.

“Tapi Mark, hubungan kita tak akan bisa dipertahankan lagi,” kekasih -ralat-  mantan kekasih Mark tetap teguh pada pendiriannya.

Mark mengangguk. Gadis itu benar. Lagipula ia juga tidak berminat untuk mempertahankannya. Ibarat tali yang sudah putus, walau disambung juga tak akan sama seperti semula. Selain itu, Mark tak mau menjadi pria bodoh yang bertahan untuk cinta yang sudah hilang.

“Kau tak perlu khawatir,” lanjut Mark. “Keinginanmu akan ku kabulkan, hubungan ini kita akhiri. Tapi untuk berteman, aku menolak. Mudah bagimu yang sudah tak lagi mencintaiku, namun bagiku itu hal sulit.”

Si gadis hendak menyela namun kalah cepat dengan sambaran Mark.

“Jangan menghubungiku atau menemuiku lagi untuk alasan apapun. Bahkan jika kita bertemu secara tak sengaja, jangan pernah menyapaku. Anggap saja kita tak pernah saling mengenal. Itulah satu-satunya cara agar kita putus baik-baik. Aku tidak akan membencimu. Aku bahkan tak akan mengingatmu sama sekali. Selamat tinggal.”

Mark meninggalkan tempat itu dengan cepat bahkan sebelum si perempuan sempat membalas ucapan selamat tinggal darinya. Badan tegapnya melangkah dengan pasti membelah derasnya hujan. Sekujur tubuhnya basah kuyup termasuk paras rupawannya. Bukan hanya oleh air hujan tapi juga air mata.

Tak apa, Mark. Sekali ini saja.

END

Oke ini antara judul, isi sama cover ga nyambung banget emang huhu

But still i hope you give comment on this. Gomawao.

Iklan

6 pemikiran pada “[Ficlet] Tear Drops in The Rain

  1. hah kadang memang sulit buat kita putus oleh satu pihak dan pihak yang satunya masih mencintainya, pasti akan terasa sulit untuk berpindah status jdi teman. hhuhu yg sabar ya mark, masih bnyak ko cwe diluar sana ^.^

    Suka

  2. Dari protagonis jadi antagonis. Ini nih yang dialamin Mark. Jadi korban tapi jadi jahat juga setelahnya. Kaum pria memang seperti itu sih kalo ga bisa nerima, ada egoisnya juga. Kebanyakan hehee
    Mark emang sayang banget sama ortunya, suka banget kalo Mark posting foto ayah ibu di ig nya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s