[Oneshot] Baekhyunobi

baekhyunobi

Title : Baekhyunobi | Scriptwriter : Songhyun

Main Cast : Byun Baekhyun EXO as Baekhyun | Eunji A-Pink as Eunji

Support Cast : D.O EXO as Kyungsoo

Genre  : Romance, Teen, School Life, Comedy (?)

Duration : Oneshot | Rating : PG-13

.

Tahu tidak kenapa Shizuka lebih memilih Nobita daripada Dekisugi?

.

Baekhyun berlari kencang menyusuri koridor sekolah. Suara bel masuk membuat nyalinya terpacu untuk meningkatkan kecepatan. Jika dalam perlombaan lari jarak pendek kemarin ia menggunakan kecepatan yang sama seperti saat ini, ia pasti sudah menang dan mengalahkan si raja atletik Jong In.

Begitu sampai di depan kelas, Baekhyun segera membuka pintu dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Tak lupa pula ia berdoa agar Guru Kim belum ada di dalam.

Baekhyun dapat bernapas lega karena meja guru masih dalam keadaan kosong. Ia menyeret kedua kakinya menuju kursi dan melampiaskan semua rasa lelahnya di sana.

Sebuah botol air berwarna pink disodorkan oleh teman sebangkunya. Baekhyun menerimanya dan menenggak isi botol itu hingga tersisa setengah.

Gomawo,” ujarnya sambil meletakkan botol berwarna pink tadi di atas meja.

Baekhyun mengernyit melihat warna botol air itu. Ia tahu bahwa Kyungsoo –teman sebangkunya- memang memiliki selera yang norak. Tapi rasa-rasanya ia masih cukup normal untuk tidak menggunakan warna sefeminim itu. Barang-barang yang dimiliki Kyungsoo rata-rata warnanya sama semua: hitam, abu-abu atau cokelat gelap. Kyungsoo tidak pernah memiliki barang dengan warna semencolok ini.

Di tengah kebingungannya, sebuah tepukan halus mendarat di bahu kiri Baekhyun, membuat Baekhyun memalingkan wajah ke arah sana. Dilihatnya Kyungsoo tersenyum penuh arti padanya.

Eh?

Tunggu, ini gawat.

Baekhyun saat ini menempati bangku yang ada di sebelah kanan bangku miliknya. Dan Baekhyun sangat hapal siapa pemilik tempat ini.

Sedikit-sedikit ia memberanikan diri untuk melirik pada sosok di sampingnya. Jantung Baekhyun yang beberapa menit lalu mulai berdetak dengan tenang sekarang kembali berdebar kencang seperti ketika melakukan aksi atletiknya di koridor tadi.

Saat ini di samping Baekhyun tengah duduk seorang murid perempuan. Jung Eunji.

Belum mengerti juga kenapa reaksi Baekhyun sampai sedramatis ini? Sederhana saja karena Jung Eunji adalah perempuan yang disukai Baekhyun sejak hari pertamanya masuk ke sekolah menengah atas. Dia cantik, ramah, pintar, dan jago olahraga. Semua murid laki-laki selalu terpesona melihat spike tajamnya di arena volley.

Baekhyun mulai memikirkan alibi untuk kembali ke tempatnya. Ia tidak akan tahan dengan debaran jantungnya sendiri jika harus duduk berjam-jam di samping Eunji. Namun botol air berwarna pink yang isinya tinggal setengah membuat Baekhyun tidak enak untuk pergi.

“Syukurlah, hari ini kamu tidak terlambat. Aku kira kamu akan dihukum lagi hari ini,” ujar Eunji tiba-tiba.

Baekhyun tersenyum. Di satu sisi ia senang karena Eunji ternyata cukup memperhatikannya hingga menyadari bahwa mendapat hukuman sudah hampir menjadi adat tersendiri bagi Baekhyun. Tapi di sisi lain ia kecewa karena mungkin Eunji mengingatnya dengan image yang buruk.

“Kamu sudah mengerjakan tugas, kan?” selidik Eunji.

“Sudah,” Baekhyun menjawab dengan sumringah. Ia membuka tas untuk mengeluarkan buku tugasnya. Untung saja kali ini ia tidak lupa untuk mengerjakannya. Baekhyun ingat sekali tadi malam ia mengerjakannya sampai ketiduran.

Semua isi tas sudah Baekhyun keluarkan sampai membuat mejanya berantakan. Namun buku tugas itu tak juga ia temukan. Baekhyun mulai panik.

Sial.

Pasti tertinggal di meja belajarnya. Tadi malam Baekhyun tidak sempat memasukannya ke dalam tas. Ia baru mempersiapkan tasnya tadi pagi dan sepertinya buku tugas yang maha penting itu malah lupa ia bawa.

“Ketinggalan? Coba telepon orang rumah agar mereka mengantarkannya kemari, mumpung Guru Kim belum datang,” saran Eunji.

Baekhyun baru saja meraih ponselnya ketika pintu kelas digeser dari luar. Guru Kim masuk ke dalam kelas memupuskan segala harapan Baekhyun detik itu juga.

“Keluarkan buku tugas kalian. Bagi yang tidak mengerjakan atau tidak membawanya, segera keluar dan berdiri di dekat pintu.”

Baekhyun meninggalkan kursi dengan pasrah. Padahal ia sudah berusaha keras supaya hari ini tidak mendapat hukuman. Tapi lagi-lagi ia mendapat kehormatan untuk mendapatkannya.

Selamat Baekhyun, ujar Baekhyun pada dirinya sendiri.

***

Ruangan kelas pada jam istirahat begitu sepi. Kebanyakan anak pergi ke kantin atau sekedar berjalan-jalan untuk memperoleh udara segar. Sementara Baekhyun memilih diam sendirian di kelas dan memijiti kakinya yang pegal karena dipakai berdiri selama satu jam pelajaran.

Pintu kelas yang terbuka menimbulkan suara deritan kecil. Baekhyun menoleh ke arah pintu dan mendapati Eunji muncul dari sana. Baekhyun memalingkan wajah dengan cepat. Kedua tangan ia singkirkan segera dari betis kakinya. Baekhyun gelagapan. Ia tak tahu harus bagaimana di hadapan Eunji. Ia ingin berpura-pura belajar namun pasti terlihat jelas kebohongannya. Ayolah, Baekhyun bukan tipe orang yang cocok dengan kegiatan belajar dan semua hal yang berhubungan dengan itu. Akhirnya Baekhyun menyambar komik yang tergeletak di meja Kyungsoo dan bertingkah seolah sedang membaca.

“Suka Doraemon?”

Baekhyun menoleh. Ia kebingungan dan mengarahkan jari telunjuk pada dirinya sendiri. Seolah bertanya, apa kau bertanya padaku? Sekian detik kemudian Baekhyun memukul pelan keningnya sendiri.

Dasar bodoh. Kepada siapa lagi Eunji bertanya kalau bukan padaku?

Baekhyun membalik komik itu dan melihat sampulnya. Pemuda itu bahkan belum sadar jika komik yang ia pegang saat ini adalah komik Doraemon.

“Ah, iya.”

Sejujurnya Baekhyun tidak bisa dibilang suka juga pada Doraemon tapi setidaknya ia cukup tahu ceritanya. Jadi, seandainya Eunji bertanya pun ia optimis mampu menjawab.

“Aku juga,” Eunji berujar.

“Ah, benarkah? Kalau begitu kita sama.”

Baekhyun tersenyum dan Eunji membalasnya. Satu hal yang paling Baekhyun sukai dari Eunji adalah senyumannya. Matanya yang sipit menjadi lengkungan tipis saat ia tersenyum atau tertawa. Dan untuk Baekhyun itu terlihat benar-benar manis.

“Hmm, ngomong-ngomong kemana Bomi?”

Sedikit berbasa-basi, Baekhyun mengajukan sebuah pertanyaan. Ia menunjuk bangku kosong di sebelah Eunji yang tadi sempat ia tempati.

“Oh, dia sedang sakit jadi tidak masuk.”

Baekhyun mengangguk. Dalam kepalanya ia berpikir keras bagaimana caranya agar obrolan ini terus berlanjut. Ia pikir mungkin sebaiknya ia bertanya hal-hal lain yang berkaitan dengan Eunji, tentang volley misalnya.

Ketika Baekhyun menoleh kembali pada Eunji, ia mendapati bahwa gadis itu kini menggeser duduknya menjadi lebih dekat padanya. Dada Baekhyun kembali bergemuruh. Rasanya ia bisa meledak jika terus seperti ini.

Eunji membuka tasnya dan mengeluarkan dua buah roti dari sana. Salah satunya ia berikan pada Baekhyun.

“Ini. Kamu pasti belum makan.”

Bingo. Tebakan Eunji seratus persen benar. Ia menerima roti pemberian Eunji. Tak dapat disangkal lagi perutnya memang lapar sekarang.

Gomawo,” kedua kalinya dalam hari ini Baekhyun mengucapkan terima kasih pada Eunji.

“Hmm, Baekhyun. Kalau boleh tahu kenapa kamu sering sekali terlambat?”

Pertanyaan Eunji nyaris membuat Baekhyun tersedak. Jujur saja, membahas hal ini membuatnya sedikit minder.

“Entahlah, tapi sepertinya aku memiliki gangguan tidur. Aku sulit tidur sebelum tengah malam hasilnya hampir setiap hari bangun kesiangan,” Baekhyun menjawab jujur.

“Sudah coba memasang alarm?”

Baekhyun mengiyakan. “Ibuku juga selalu membangunkanku sekarang. Jika cara halus tidak berhasil ia akan memukul panci di dekat telingaku. Aku rasa sebentar lagi aku tidak akan datang terlambat ke sekolah tapi mungkin harus segera memeriksakan diri ke dokter telinga.”

Candaan Baekhyun membuat Eunji tertawa. Mata kecilnya semakin tenggelam dalam tawa sementara Baekhyun semakin tenggelam dalam perasaannya.

“Hmm, sebenarnya selain itu aku juga memiliki masalah lain,” lanjut Baekhyun. “Aku seringkali lupa mengerjakan tugas. Ingatanku cukup payah juga ternyata. Hmm karena itu, boleh kan jika aku menghubungimu hanya untuk bertanya tentang tugas?” Baekhyun bertanya hati-hati.

Eunji kembali tertawa. “Tentu. Kalau begitu aku juga akan mengirimkan pesan pengingat di pagi hari untuk berjaga-jaga agar kamu tidak lupa membawa buku tugasmu lagi.”

Sumpah kalau Eunji tak ada di sana, Baekhyun pasti sudah melompat kegirangan. Ia sangat senang sampai rasanya ingin memeluk Guru Kim saat itu juga.

***

Gedung olahraga begitu riuh oleh teriakan penuh dukungan dari para siswa. Saat ini tengah diadakan pertandingan volley putri antar kelas. Baekhyun dan Kyungsoo turut hadir untuk menyaksikan jalannya pertandingan dan mendukung tim dari kelas mereka.

Baekhyun begitu antusias karena Eunji ikut andil dalam permainan ini. Ia duduk dengan sangat tidak tenang. Seringkali melonjak dari kursi hanya untuk melihat lebih jelas posisi jatuhnya bola. Tidak lupa pula ia bertepuk tangan keras ketika kelasnya berhasil mencetak poin apalagi jika Eunji yang menciptakannya.

Lain dengan Baekhyun, Kyungsoo duduk tenang di kursinya sambil membaca komik Doraemon. Ia membaca penuh kedamaian seolah tak terganggu oleh suara teriakan yang cukup keras. Setelah membuka beberapa halaman Kyungsoo tiba-tiba saja tertawa. Mau tak mau Baekhyun yang duduk di sampingnya menjadi penasaran. Seingat Baekhyun cerita Doraemon tak pernah selucu itu.

Baru saja Baekhyun hendak bertanya, Kyungsoo sudah membuka mulut terlebih dahulu.

“Hei, Baekhyun. Aku rasa ini lucu sekali. Kamu memiliki banyak kesamaan dengan Nobita. Kalian sama-sama sering dihukum berdiri di luar kelas karena kesiangan dan lupa mengerjakan tugas,” kata Kyungsoo di sela tawanya.

Baekhyun menghadiahkan pandangan sinis pada Kyungsoo. Matanya seolah berkata, itu-tidak-lucu.

“Selain itu kalian menyukai gadis yang hampir sama. Aku rasa Eunji mirip dengan Shizuka. Ia cantik, baik, pintar, dan banyak orang yang menyukainya. Sementara kau dan Nobita. . .oh aku bahkan tak tega untuk mengatakannya.” Kyungsoo kemudian menutup candaannya dengan sebuah rangkulan di bahu Baekhyun.

“Yak! Lalu kau ini apa? Doraemon?” balas Baekhyun.

Kyungsoo belum berhenti tertawa sepenuhnya. Ia masih terkekeh geli sambil menepuk-nepuk pundak Baekhyun.

“Eh, ngomong-ngomong tentang Eunji aku mendengar sesuatu tentangnya,” tiba-tiba saja nada bicara Kyungsoo berubah drastis menjadi serius. “Katanya ada seseorang yang sedang mendekatinya.”

Jantung Baekhyun seolah terkena serangan jantung ringan saat itu. Seketika itu juga jutaan kata siapa dan tanda tanya besar muncul dalam pikirannya.

“Namanya Chanyeol, senior kita di kelas dua.”

Berikutnya Baekhyun dilanda penasaran untuk mengetahui yang mana orangnya dan ia ingin melihat perwujudan nyata dari seorang yang bernama Chanyeol.

“Kalau tidak salah dia menjadi panitia dalam pertandingan ini.”

Kyungsoo mengitari seluruh gedung dengan pandangannya. Beberapa saat kemudian, Kyungsoo mengarahkan telunjuknya ke satu sudut lapangan. “Itu! Itu dia orangnya,” seru Kyungsoo.

Dengan cepat Baekhyun mengalihkan tatapannya ke arah yang ditunjuk oleh Kyungsoo. Seorang siswa dengan nametag panitia berdiri di sana. Baekhyun memerhatikan sosok itu baik-baik dari ujung kaki sampai ujung rambut. Oke, dia tinggi dan –ya- sedikit tampan. Itulah impresi pertama Baekhyun pada sosok bernama Chanyeol itu.

“Kabarnya dia murid teladan lho. Pemegang nilai tertinggi di sekolah kita. Dia salah satu ketua divisi organisasi sekolah dan anggota tim basket. Oh iya, dia pernah mewakili sekolah kita dalam olimpiade matematika. Dia juga. . . .”

Baekhyun menelan ludah. Sementara Kyungsoo terus memaparkan kehebatan-kehebatan Chanyeol yang lain. Entah apa saja Baekhyun sampai tak bisa mengingatnya karena terlalu banyak. Baekhyun bahkan tak sanggup untuk mendengarnya lagi.

“Aku rasa dia mirip Dekisugi,” pungkas Kyungsoo.

Oh terserahlah, Baekhyun sudah lemas sekarang. Apalagi saat peluit tanda pertandingan berakhir dibunyikan. Normalnya Baekhyun bertepuk tangan dan bersorak gembira seperti teman sekelasnya yang lain untuk menyambut kemenangan kelas mereka. Tapi Baekhyun tak mampu melakukan itu, jiwanya seolah lenyap melihat apa yang terjadi di lapangan. Chanyeol berlari ke tengah untuk memberikan ucapan selamat pada Eunji dan memberikan air minum pada gadis itu. Baekhyun seolah ingin membenturkan kepalanya sendiri ke tembok.

Kyungsoo yang menyadari hal ini dengan cepat menggunakan tubuhnya untuk menghalangi arah pandang Baekhyun.

“Baekhyun, dari segi spesifikasi kamu memang kalah telak dari Chanyeol,” ujar Kyungsoo prihatin. “Maka dari itu kamu harus bergerak lebih cepat darinya. Kamu harus menyatakan perasaanmu lebih dulu dibanding dia. Hanya itu satu-satunya cara agar kamu bisa menang!”

***

Itu satu-satunya cara agar kamu bisa menang!

Berbekal satu kalimat dari Kyungsoo, keesokan siangnya Baekhyun datang ke lapangan volley. Baekhyun berdiri mematung di pinggir lapangan sambil mengamati beberapa murid yang tengah berlatih. Rencananya ia akan menunggu sampai Eunji selesai lalu menyatakan perasaannya pada gadis itu. Baekhyun mengepalkan tangan penuh semangat. Ia pasti bisa!

Dering ponsel membuat Baekhyun sedikit terganggu. Ia melirik layar ponselnya dan mendapati nama Kyungsoo tertera di sana. Baekhyun menjawab panggilan itu dengan senang hati. Barangkali Kyungsoo akan memberikan tips dan trik lain yang akan berguna baginya.

“Gawat Baekhyun, ini benar-benar gawat!” Kyungsoo memekik. Seolah ia tengah berada dalam situasi paling genting dalam hidupnya.

“Ada apa?”

“Kabarnya, kemarin Chanyeol sudah menyatakan perasaannya pada Eunji. Kau terlambat satu langkah, Byun Baekhyun!”

Baekhyun menggigit bibir. “Kamu tahu dari siapa?”

“Dari Minah! Kamu tahu sendiri kan dia itu sangat update berita hangat di sekolah!”

“Eunji. . .dia sudah menerimanya?” Baekhyun bertanya ragu.

“Katanya sih belum. Oh ayolah, cepat atau lambat Eunji pasti akan mengatakan iya. Jujur saja, kalau aku jadi wanita aku juga pasti lebih memilih Chanyeol ketimbang dirimu. Ingat apa yang ku katakan kemarin? Jika diibaratkan kamu ini Nobita dan Chanyeol itu Dekisugi. Wanita pada umumnya akan lebih menyukai Dekisugi. Saranku nih, lebih baik kamu batalkan saja niatmu itu. Bukannya aku tak mendukungmu tapi sebagai teman aku tidak ingin melihatmu terluka, Baek,” cerocos Kyungsoo panjang lebar. Entah kenapa ia mendadak cerewet sekali saat itu.

“Tapi. . .pada akhirnya Shizuka juga memilih Nobita, kan? Itu artinya aku masih punya kesempatan. . .”

Padahal kemarin Baekhyun sangat tidak terima Kyungsoo samakan dengan Nobita. Tapi sekarang ia malah berharap kisah cintanya berakhir sama seperti kisah Nobita dan Shizuka.

“Kamu sudah nonton film Doraemon Stand By Me?”

Baekhyun merenggut. Ia tak mengerti kenapa di saat penting seperti ini Kyungsoo malah bisa-bisanya menanyakan film yang kabarnya membuat 60% penonton menangis dalam penayangan pertamanya.

“Belum,” Baekhyun menjawab dengan bingung.

“Aku juga belum! Jadi aku tidak tahu akhir kisah Nobita dan Shizuka itu seperti apa. Bisa jadi Doraemon selama ini hanya membohongi Nobita untuk menyenangkannya saja.”

Baekhyun memutuskan sambungan telepon lalu meremas rambutnya frustasi. Dia benar-benar bingung saat ini. Pertama, ia mulai ragu untuk merealisasikan rencananya. Well, Baekhyun sendiri sadar kalau Chanyeol jelas saingan yang sangat berat. Dan yang kedua, yang benar-benar membuatnya pusing adalah petuah Kyungsoo yang rasanya tidak membantu sama sekali. Bagaimana bisa kisah cinta Baekhyun disamakan dengan jalan cerita komik anak-anak buatan Jepang itu?

Baekhyun memejamkan mata. Ia perlu berpikir dengan serius. Setelah menenangkan pikirannya dalam kegelapan, sayup-sayup Baekhyun mendengar suara Eunji memanggil namanya.

Hei, apa ini sebuah petunjuk?

Sekian detik kemudian Baekhyun menyadari bahwa suara itu tidak berasal dari pikirannya tapi secara nyata ia tangkap lewat kedua gendang telinganya. Baekhyun membuka mata dan melihat Eunji beteriak padanya.

“Baekhyun, awas!”

BUK!

Tubuh Baekhyun terjungkal sebelum ia menyadari situasi yang tengah terjadi. Eunji meringis lalu berlari menghampiri Baekhyun.

***

Kini Baekhyun tengah berbaring di atas ranjang kecil dalam sebuah ruangan serba putih. Ia tak bisa mengingat kenapa dan bagaimana caranya ia berada di ruangan asing tersebut. Kepalanya terlalu pusing bahkan untuk mengingat hal-hal sederhana semacam itu.

“Kamu sudah siuman?” tanya Eunji yang entah sejak kapan berada di samping ranjang tempat Baekhyun terbaring.

“Aku dimana?” tanya Baekhyun.

“Di ruang kesehatan. Tadi kepalamu terkena hantaman bola volley sampai tubuhmu terjungkal dan kepalamu terbentur. Kamu sampai pingsan selama setengah jam.”

Wow, Baekhyun bahkan tak ingat dengan kejadian tragis yang sudah menimpa dirinya.

“Sekarang bagaimana? Sudah merasa lebih baik?”

Baekhyun mengangguk pelan.

“Ngomong-ngomong tadi kamu sedang apa sih sampai terus-terusan berdiri di pinggir lapangan?” Eunji bertanya penasaran.

Pertanyaan dari Eunji seolah menjadi penghubung neuron dalam otak Baekhyun. Sekarang ia ingat semuanya. Mulai dari rencananya, telepon dari Kyungsoo, Doraemon, dan hantaman bola di kepalanya. Baekhyun mengernyit. Kepalanya benar-benar nyeri kala itu.

“Hei, Baekhyun. . .”

Eunji mengibaskan tangan di depan wajah Baekhyun, membuyarkan lamunan pemuda itu.

“Apa yang kamu lakukan disana, Baek?”Eunji mengulang pertanyaannya.

Baekhyun menelan ludah. Kegugupan yang sempat ikut ia lupakan kini menyerangnya dengan dahsyat. Apalagi sekarang Eunji berada tepat di depannya. Kali ini ia harus membuat pilihan mau melanjutkan skenario ini atau tidak.

“Sepertinya kamu masih perlu waktu untuk istirahat. Aku akan meninggalkanmu kalau begitu,” Eunji menyerah. Ia menggeser kursinya dan beranjak pergi.

“Eh, tunggu!” seru Baekhyun.

Eunji berbalik. Sementara Baekhyun menyumpal mulutnya dengan tangan. Teriakan tadi itu di luar script yang ia pikirkan. Kini Eunji menatap Baekhyun penuh tanda tanya membuat pemuda itu mendesah berat.

“Aku akan mengatakannya. Tapi. . .bisakah kau berbalik? Aku terlalu malu untuk mengatakannya.”

Permintaan Baekhyun tak ayal lagi membuat Eunji tertawa kecil. Meski begitu ia tetap mengikuti permintaan Baekhyun dan berbalik menghadap pintu.

“Sebenarnya. . . tadi itu. . . aku menunggumu. Aku ingin menyampaikan sesuatu. Aku. . . menyukaimu. Sejak hari pertama masuk ke sekolah ini. . .

Aku tahu ini mungkin bukan saat yang tepat tapi aku merasa perlu untuk mengatakannya.

Aku juga tahu kalau aku ini payah, Kyungsoo bahkan menyamakanku dengan Nobita.

Tapi. . . aku harap kau bisa sedikit mempertimbangkanku.”

. . . . .

“Baekhyun.”

“Jangan katakan sekarang!” potong Baekhyun. “Aku perlu waktu untuk mempersiapkan diri mendengar jawabannya.”

“Hmm baiklah, aku pergi dulu kalau begitu.”

Baekhyun menyembunyikan dirinya di bawah selimut begitu Eunji keluar dan menutup pintu. Yang tadi itu benar-benar memalukan sekali. Mana ada pemuda normal lain yang menyatakan perasaannya dengan cara yang aneh seperti itu. Baekhyun sampai menggigit bantal saking malunya. Sepertinya besok ia harus bolos sekolah. Ia tidak punya muka untuk bertemu dengan Eunji.

Suara dering ponsel membuat Baekhyun terpaksa keluar dari ‘persembunyiannya’. Dengan sedikit menggerutu ia menjulurkan tangan dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Begitu melihat nama pemanggil yang tertera di layar, Baekhyun seolah terkena sengatan listrik sampai nyaris melempar ponsel satu-satunya yang ia miliki. Bagaimana tidak, orang yang menghubunginya ternyata Eunji.

Baekhyun menggigit bibir. Menimbang-nimbang untuk menjawab panggilan itu atau tidak. Bagaimana jika itu bukan Eunji tapi malah Chanyeol yang mungkin marah karena Baekhyun dinilai mengganggu hubungan mereka? Tapi bagaimana jika itu memang benar-benar Eunji? Baekhyun rugi berat kalau sampai tidak menjawabnya.

Setelah mempertimbangkan bermacam resikonya, Baekhyun memutuskan untuk menjawab panggilan itu. Ia mendekatkan ponsel ke telinga dan menajamkan indera pendengarannya itu. Jika suara yang terdengar bukan suara Eunji maka Baekhyun akan memutuskan panggilan itu lalu mematikan ponsel selama beberapa hari.

“Baekhyun,” terdengar sapaan lembut dari ujung sana. Itu suara Eunji, Baekhyun yakin dengan pasti. Setelah mengetahui panggilan itu memang dilakukan oleh Eunji, bukannya tenang Baekhyun malah gugup setengah mati. Baekhyun tidak bisa menebak apa yang akan disampaikan oleh Eunji padanya.

Ne,” Baekhyun menjawab.

“Hmm, kamu tahu tidak kenapa Shizuka lebih memilih Nobita daripada Dekisugi?”

Baekhyun membatu karena bingung. “Entahlah,” ujarnya datar.

Namun sedetik kemudian Baekhyun menyadari sesuatu. Tadi kan dia menyamakan dirinya dengan Nobita. Mungkin Nobita dan Dekisugi yang dimaksud Eunji adalah dirinya dan Chanyeol. Persis seperti analogi dari Kyungsoo.

“Karena Nobita selalu berhasil membuatnya cemas dan khawatir. Selain itu, Shizuka merasa lebih dibutuhkan oleh Nobita. Ia pikir ia bisa menjadi sosok yang dinilai berarti jika bersama dengan Nobita.”

Perlu beberapa saat bagi Baekhyun untuk mencerna maksud perkataan Eunji. Tapi sekian detik berikutnya Baekhyun tersenyum.

“Eunji.”

Ne?”

“Mau pulang bersamaku? Kepalaku masih sedikit pusing, bisa saja aku terantuk batu dijalanan sampai kepalaku membentur aspal. Jika itu terjadi aku bisa pingsan lebih dari setengah jam.”

Eunji tertawa kecil.

“Oke, tunggu aku setelah latihan selesai.”

Sambungan telepon terputus dan Baekhyun melonjak kegirangan di atas ranjang.

See? Tak perlu menjadi sesempurna Dekisugi untuk mendapatkan hati seseorang.

.

FIN

Kekekekeke ff ini sebenarnya terinspirasi dari kegalauan aku yang ga jadi nonton Stand By Me huhu

BTW how do you think about this story? Mind to review?

RCL please karena itu sangat berharga 🙂

Iklan

4 pemikiran pada “[Oneshot] Baekhyunobi

  1. salam kenal Songhyun-ssi, aku Liana 95line ^^
    aku sebenernya lumayan suka karya2mu, cuman agak panjang sih emang hehe *pdhal aku juga suka nulis FF panjang…*
    tapi ini unyuuu! aduh baek… oon.
    yg aku sedikit g terima mungkin chanyeol yg disamain sama dekisugi, bagiku yg dekisugi itu suho :p
    aku penasaran kenapa juga shizuka milih nobita, eh ternyata itu alasannya… cute!
    tak ada typo sejauh mata memandang ^^
    saranku, mungkin lebih enak kalo di halaman depan itu dipotong sampe summary aja. jadi halaman depannya pendek2 tapi bisa memuat banyak fic 🙂
    keep writing yaa!!!

    Suka

    • Salam kenal Liana 😊 makasih udah mampir
      Eh iya setelah dipikir lagi suho lebih cocok kayanya XD
      Okeeee makasih untuk sarannya, baru juga sih pake WP jadi belum bisa ngotak atik biar tampilannya lebih enak 😉

      Suka

  2. hhaha dasar baekhyun. Aduh kyungsoo samain baek sma nobita, hhihi tpi karakter baek disini bner2 kyk nobita bnget 😀 kyungsoo bner2 deh pas pertama dia nyuruh baek buat ga nyerah, eh pas tau chanyeol udh nembak eunji dia malah nyuruh baek buat nyerah xD hhihi pdahalkan meskipun baek suka terlambat, tidak pintar dlam pelajaran dan tidak pintar dlam olahraga baek udh buat eunji memilih dia >< ditunggu ff baekji lainnya ^.^

    Suka

    • Haha iya Baek disini emang sengaja disetting sedemikian rupa biar mirip Nobita
      Kan awalnya Kyungsoo pikir peluang Baek cuma dengan bergerak lebih dulu, eh kemudian satu2nya peluang itu malah diambil juga sama si Chanyeol, makanya Kyungsoo yang khawatir Baek ditolak jadi menyarankan untuk mundur XD
      Ff baekji ada d bawah, judulnya Autumn Dusk hihi

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s