[Ficlet] Waiting

Waiting For ❤ Desktop Background

Title : Waiting| Scriptwriter : Songhyun

Main Cast : Seungyoon Winner as Seungyoon | Eunji A-PINK as Eunji

Genre : Romance, Sad, Angst

Duration : Ficlet | Rating : T

.

Ada yang lebih menyedihkan dari menunggu

.

Suasana malam yang syahdu menggodaku untuk menikmatinya. Memetik gitar, menciptakan alunan sendu yang membuatku semakin hanyut dalam suasana. Ketika itulah kau keluar dari kediamanmu yang hangat. Entahlah, mungkin tergelitik oleh nada-nada yang ku rangkai sedemikian rupa.

Dengan mengenakan piyama longgar bermotif kelinci, kau melenggang ke arahku. Kemudian tanpa basa-basi menempati tanah kosong di sampingku dan ikut duduk merumput di sana.

Tak perlu banyak waktu, aku sudah tahu ada yang tidak beres denganmu. Terutama saat ku lihat wajahmu yang kusut dan matamu yang sembab. Wajah sedihmu membuat konsentrasiku buyar hingga tanpa sadar jemari ini tak lagi memainkan senar.

“Teruskan, mainkan sebuah lagu yang sangat sedih untukku,” pintamu.

Alih-alih mengikuti kemauanmu, aku malah menaruh gitar di sisi lain tubuhku. Ku tatap wajahmu lamat-lamat dan aura kesedihan itu terasa semakin pekat.

“Apa yang terjadi padamu?”

“Tidak ada.”

“Jangan berbohong.”

Sudah bertahun-tahun lamanya kita saling mengenal. Sungguh bodoh jika kau kira bisa memperdayaiku.

“Aku hanya. . .putus cinta,”ujarmu ringan dengan seulas senyum.

Namun aku tahu hatimu meringis ketika mengatakan hal itu. Aku tahu kau kecewa. Aku tahu kau merana. Aku tahu karena aku merasakannya. Setiap kali kau tersiksa aku pun sengsara. Sayangnya, kau tak pernah tahu hal itu.

Gwaenchana. Semua pasti baik-baik saja.”

Aku mengusap halus rambutmu. Sementara kau menunduk, sembunyikan matamu yang mulai basah.

“Tenang saja, kau hanya belum menemukan orang yang tepat.”

Dan kau pun menyerah. Kau biarkan air matamu jatuh dan basahi bahuku untuk yang ke sekian kalinya. Kau tentu tidak ingat sudah berapa kali. Lain denganku yang bahkan mengingat semua lara dari setiap tetes air matamu.

Aku mengingatnya dengan fasih karena pada setiap butir bening yang kau jatuhkan tersimpan sebuah harap dariku. Berharap salah satu tetes kesedihanmu dapat membuatmu melihat dan mengingatku. Seseorang yang selalu meminjamkan bahu untukmu. Seseorang yang terluka kala melihatmu bersama pemuda lain namun tetap berdoa dengan tulus untuk kebahagiaanmu.

Eunji, seandainya kau menyempatkan sedikit waktu untuk melihatku, kau akan tahu bahwa akulah orang yang paling mengerti dirimu dan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia. Jika saja kau mau membuka matamu, kau tentu akan melihat bahwa orang yang kau butuhkan sesungguhnya telah hadir dalam hidupmu sejak waktu yang lama.

***

Dentingan suara gitar sayup-sayup terdengar olehku. Aku membuka jendela dan mendapati kau duduk di halaman sembari memainkan lagu. Aku pikir menghabiskan waktu denganmu akan lebih berharga ketimbang merutuki diri di dalam kamar. Maka aku pun keluar dan ikut bergabung bersamamu.

Rupanya aku harus menanggung kecewa, kau malah berhenti memetik senar begitu aku duduk di dekatmu. Padahal aku sangat ingin mendengarnya juga melihat gaya piawaimu dalam memainkan gitar.

“Teruskan, mainkan sebuah lagu yang sangat sedih untukku,” pintaku.

Bukannya mengabulkan keinginanku kau malah menyimpan alat musik itu dan menatapku sangsi.

“Apa yang terjadi padamu?” kau bertanya.

Kau selalu membacaku dengan baik. Bahkan ketika tak satu pun kata yang keluar dari bibirku, kau selalu tahu bisik hatiku.

“Tidak ada,” ujarku, berusaha untuk mendustaimu.

“Jangan berbohong.”

Seharusnya aku tak mencoba mengelabuimu karena itu selalu sia-sia. Terkadang kau bahkan lebih jeli dari ibu. Kau tahu benar apa yang ku sembunyikan dan apa yang tak ku katakan.

“Aku hanya. . .putus cinta.”

Aku tersenyum agar tak membuatmu cemas. Namun lagi-lagi aku gagal. Dari sorot matamu terpancar kekhawatiran yang mendalam. Deru napasmu terdengar berat menahan luka. Kau terlihat menderita, seolah kau pun ikut merasakan luka.

Gwaenchana. Semua pasti baik-baik saja.”

Jemari panjangmu mengelus lembut rambutku. Cara terbaikmu yang selalu sukses menenangkanku. Namun gerakan tanganmu di kepalaku begitu gemetar. Semakin menegaskan nyeri yang turut bersarang di dadamu. Kau terlalu mencemaskanku. Aku baik-baik saja sejak bertemu denganmu. Meski kini segores luka lama dalam hati terbuka kembali dan membuatku menangis.

“Tenang saja, kau hanya belum menemukan orang yang tepat,” katamu.

Kalimatmu membuatku semakin rapuh. Tak ada pilihan lain bagiku selain menyandarkan diri padamu dan menumpahkan segala perihku di sana. Aku tahu kau hanya ingin menghibur. Tapi kata-katamu menyakitkan Seungyoon, karena sesungguhnya aku telah menemukannya.

Adakah seseorang yang lebih mengerti diriku daripada kamu? Adakah pria lain yang mau mendengarkanku dan selalu siap meminjamkan bahunya untukku? Adakah sosok lain yang mampu menenangkanmu seperti aku? Adakah di sana seseorang yang ikut terluka saat aku merana?

Aku telah mencoba dengan sekian banyak pria dan tak satu pun yang berhasil. Kau tahu kenapa? Karena seseorang yang tepat untukku adalah kau. Tapi kenapa kau tak segera tahu?

***

Ada yang lebih menyedihkan dari menunggu.

Saling menunggu tapi tidak saling tahu.

.

FIN

Sejujurnya udah lamaaaaaa banget punya ide untuk nulis sesuatu berdasarkan kalimat di akhir itu dan baru kesampaian sekarang.

Dan ini pertama kalinya aku nulis dengan sudut pandang seperti ini juga plot yang seperti ini. How do you feel after read this story?

Kritik dan saran sangat ditunggu 🙂

Iklan

4 pemikiran pada “[Ficlet] Waiting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s