Love Has No Reason

Cover Love Has No Reason

Title : Love Has No Reason | Scriptwriter : Songhyun

Main Cast : Xiumin EXO as Min Seok & Alice Hello Venus as Ju Hee

Genre             : Romance, Fluff

Duration : Vignette | Rating : PG-15

.

Min Seok menyukai Ju Hee dan ingin menjadikan gadis itu sebagai kekasih.

Ju Hee mau menerimanya dengan satu syarat,

Min Seok harus bisa menjawab sebuah pertanyaan.

.

Love Has No Reason

Min Seok menautkan kesepuluh jari tangannya. Mulutnya terbuka dengan bibir menempel pada sisi bagian dalam tautan tangannya. Matanya mengerjap perlahan. Sesekali tatapannya menerawang ke atas seolah melihat sesuatu di sana. Terkadang kepalanya miring ke kiri lalu sebentar kemudian miring ke kanan dan setelah itu ia menggeleng seperti tengah menyanggah sesuatu. Dari gerak-geriknya, terlihat jelas bahwa Min Seok saat ini tengah memikirkan sesuatu.

“Kenapa, ya?” gumamnya kemudian.

Ju Hee tersenyum geli melihatnya. Tingkah Min Seok sungguh lucu. Namun itu tidak lantas membuat Ju Hee mengabulkan keinginan Min Seok begitu saja.

“Jika kau bisa menjawabnya, maka aku akan menerimamu menjadi pacarku,” ujar Ju Hee sambil tersenyum.

Min Seok mendesah. Ia masih belum juga menemukan jawaban atas pertanyaan yang Ju Hee berikan untuknya. Sebenarnya Min Seok tidak begitu suka memikirkan hal-hal rumit seperti ini. Berpikir dengan keras hanya akan membuat kepalanya sakit tanpa berhasil memperoleh apapun. Namun kali ini Min Seok tidak akan menyerah begitu saja. Ia kembali berusaha dengan gigih. Meski sepertinya ini akan memerlukan waktu yang lama, selama Ju Hee masih bersedia menunggunya, Min Seok tidak merasa keberatan.

“Maaf, tapi bisakah kau mengulang pertanyaannya kembali? Aku takut jika aku salah mengartikan maksud dari pertanyaanmu tadi,” Min Seok bertanya. Ia sebenarnya merasa tidak enak tapi tak apa, lagipula pepatah mengatakan ‘malu bertanya sesat di jalan’.

“Tadi kau mengatakan padaku bahwa kau menyukaiku dan ingin menjadi kekasihku,”

Min Seok mengangguk, membenarkan kalimat pembuka dari Ju Hee. Ia sudah sengaja mengajak Ju Hee bertemu di cafe ini untuk menyatakan perasaannya pada gadis itu. Ya, itu benar dan ia sudah melakukannya tadi.

“Pertanyaan dariku adalah kenapa kau menyukaiku? Apa alasanmu?” Ju Hee mengulang pertanyaannya dengan sabar.

Sekali lagi Min Seok menganggukkan kepalanya sambil berkata dalam hati, “ah, iya, itu dia pertanyaannya”. Saat pertama kali mendengar pertanyaan itu, Min Seok merasa lega karena Ju Hee tidak memberinya pertanyaan seperti berapa jarak bumi dari matahari, siapa orang yang sudah menemukan pensil, atau memintanya mengerjakan soal kalkulus. Bisa saja kan Ju Hee mengajukan pertanyaan aneh seperti itu, mengingat ia adalah murid terpintar di sekolah. Tidak hanya itu, ia sering terpilih untuk mengikuti berbagai olimpiade dan hasilnya tidak jarang ia menghadiahkan piala dan medali untuk sekolah.

Untungnya, pertanyaan dari Ju Hee berkaitan dengan perasaan Min Seok sendiri pada gadis itu. Jadi asal Min Seok benar-benar menyukai Ju Hee, ia pasti akan bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan mudah. Awalnya Min Seok pikir begitu, tapi nyatanya setelah sekian menit berlalu, ia belum mendapat sedikit pun pencerahan. Ini aneh, padahal Min Seok benar-benar yakin dengan perasaannya.

Min Seok menatap Ju Hee yang tengah menunggu jawaban darinya dengan membaca sebuah buku yang cukup tebal. Tidak heran jika Ju Hee begitu pintar, ia sepertinya sangat suka membaca. Buktinya dalam situasi seperti ini pun ia masih bisa membaca dengan tenang.

Apa mungkin aku menyukainya karena kepintarannya?

Itu merupakan alasan pertama yang melintas di kepala Min Seok. Tapi beberapa saat kemudian, ia membantahnya sendiri. Ia ingat dengan Sooyoung, salah satu murid di sekolah. Sooyoung adalah saingan Ju Hee, mereka seringkali memperebutkan predikat murid teladan. Sooyoung juga tidak kalah pintar dari Ju Hee tapi Min Seok tidak pernah menyimpan perasaan suka padanya. Jadi, sepertinya bukan kepintaran Ju Hee yang menjadi alasan.

Mungkin karena ia cantik?

Sepertinya alasan yang ini juga bukan. Siswa paling cantik di sekolah Min Seok adalah Yoona. Gadis itu selalu menjadi topik pembicaraan hampir seluruh murid laki-laki di sekolah. Min Seok juga mengakui bahwa Yoona memang sangat cantik tapi ia tak pernah tertarik untuk menjadikan Yoona sebagai pacar.

Min Seok menghela napas. Sekali lagi, ia memperhatikan sosok Ju Hee yang berada tepat di hadapannya untuk menemukan inspirasi. Rupanya Ju Hee menyadari bahwa ia saat ini tengah diperhatikan, gadis itu melepaskan pandangannya dari buku dan beralih pada Min Seok.

“Sudah mendapat jawaban?” tanya Ju Hee.

Min Seok menggeleng dengan lemas.

“Mungkin kau bisa melakukannya sambil menikmati minumanmu,” Ju Hee menunjuk segelas vanilla latte yang ada di atas meja. “Sepertinya sudah dingin karena sudah cukup lama,” imbuhnya.

Ju Hee benar. Begitu tangan Min Seok menyentuh gelas, ia bisa merasakan bahwa minuman itu sudah tak lagi hangat. Min Seok bahkan belum menyesapnya sedikit pun. Ia terlalu fokus berpikir sampai melupakan pesanannya sendiri.

“Tidak usah terlalu serius, pikirkan saja dengan tenang,” kata Ju Hee sambil tersenyum.

Aha! Karena Ju Hee seorang gadis yang baik?!

Sebuah pemikiran tiba-tiba muncul dalam benak Min Seok. Ju Hee seorang perempuan yang baik. Ia sering membantu teman-temannya yang kesulitan belajar. Ju Hee pernah mengajari Min Seok mengerjakan soal Fisika. Ia juga selalu bersikap ramah pada semua orang. Tapi lagi-lagi Min Seok ragu dengan alasan ini. Jieun, teman sekelas Min Seok, juga sangat baik padanya. Membuatkan salinan catatan ketika Min Seok tidak bisa hadir karena sakit bahkan terkadang memperbolehkan Min Seok mencontek pekerjaan rumahnya. Sekitar akhir bulan lalu Min Seok akhirnya tahu bahwa selama ini Jieun menyukainya, namun kebaikan Jieun tidak lantas membuat Min Seok mau menerima gadis itu.

Bahu Min Seok melorot. Ia sudah kehilangan harapan. Berbagai alasan sudah ia pikirkan, tapi rasanya tak ada satu pun yang masuk akal. Yang pasti, Min Seok senang jika melihat Ju Hee tertawa, ia merasa nyaman saat bersama dengan Ju Hee, dan menghabiskan waktu lama bersama Ju Hee tidak pernah terasa membosankan sekali pun jika mereka melakukannya dengan membahas soal-soal kimia yang sangat tidak Min Seok sukai. Min Seok benar-benar yakin dengan perasaannya tapi herannya ia tak tahu kenapa ia bisa memiliki perasaan itu.

Ju Hee melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah sore, matahari bahkan sudah hampir tenggelam sehingga menimbulkan munculnya warna jingga yang menghiasi langit.

“Min Seok, maafkan aku tapi sebentar lagi malam, aku harus segera pulang. Kau bisa menjawab pertanyaanku sekarang,” ujar Ju Hee.

Min Seok menarik napas dengan berat. Sampai detik-detik terakhir, ia tidak juga berhasil menemukan jawabannya.

“Entahlah, aku tak tahu,”

Dengan berat hati, Min Seok terpaksa mengatakan kebenarannya. Sekali pun sulit, Min Seok tetap jujur pada Ju Hee. Ia tidak ingin bicara ngawur dengan berbohong jika ia sendiri bahkan tidak merasa yakin atas kebohongannya.

“Yang aku tahu hanyalah aku menyukaimu, itu saja,” tambah Min Seok.

Min Seok menundukkan kepala. Ia sudah pasrah. Min Seok melapangkan dada untuk menerima kenyataan bahwa ia tak bisa menjadi kekasih Ju Hee. Bagaimana lagi, salahnya sendiri kan yang tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

“Baiklah, aku menerimamu,” Ju Hee berkata dengan yakin.

Min Seok mengangkat kepalanya dan menatap Ju Hee tak percaya. Dilihatnya gadis itu kini tengah tersenyum padanya. Eh, apa tidak salah? Min Seok bahkan tidak bisa menjawab pertanyannya. Jadi bagaimana bisa Ju Hee menerima Min Seok sebagai kekasih?

“Mulai sekarang, kita resmi berpacaran,” Ju Hee menambahkan. Mendengar imbuhan dari Ju Hee, bukannya merasa yakin Min Seok malah semakin tidak percaya. Matanya membulat penuh tanda tanya.

“Tapi, a. . .aku kan tidak tahu jawabannya apa?” tanya Min Seok penuh sangsi.

“Ya, dan itulah jawaban yang ku harapkan,”

Min Seok semakin tak mengerti. Untuk apa Ju Hee memintanya untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan tadi jika jawaban yang ia inginkan ternyata hanyalah ketidaktahuan?

Ju Hee menyerahkan sehelai kertas kepada Min Seok. Min Seok membaca tulisan di kertas itu dengan cermat untuk benar-benar memahami maksudnya. Beberapa saat kemudian, Min Seok tersenyum dengan lebar. Ia mengerti sekarang.

“Besok kita bertemu lagi di sini. Jam tiga. Jangan terlambat,” kata Ju Hee sambil berdiri meninggalkan tempat duduknya.

Min Seok masih memandangi kertas tadi dengan kagum. Ia masih sedikit tak percaya sampai telat menyadari bahwa Ju Hee sudah mengajaknya untuk kencan. Begitu ingat dengan hal itu, Min Seok bergegas untuk mengiyakan tawaran dari Ju Hee. Namun Ju Hee sudah tidak lagi berada di depan Min Seok, maka pemuda itu berbalik dan menemukan sosok Ju Hee tengah berjalan ke arah pintu cafe.

“Aku pasti akan datang sepuluh menit lebih cepat!”

Min Seok berseru dengan setengah berteriak agar perkatannya bisa di dengar oleh Ju Hee yang saat ini berada dalam jarak cukup jauh darinya. Beberapa pengunjung yang lain melihat ke arah Min Seok dengan tatapan aneh. Tapi Min Seok sama sekali tidak mengetahuinya karena saat ini ia tengah asyik memandangi sehelai kertas pemberian Ju Hee kembali. Ia kemudian membaca apa yang tertulis di sana berulang-ulang tanpa merasa bosan sedikit pun.

“Love is strange. It has no rhyme or reason. It simply is.” –Rachel Hawthorne.

Senyum Min Seok semakin melebar. Ia sangat merasa bersyukur atas dua hal. Pertama, sekali pun ia bodoh dalam hitung-hitungan ia memiliki kemampuan bahasa Inggris yang masih cukup memadai untuk bisa mengartikan quote dari Ju Hee. Dan yang kedua, karena ternyata ia tidak salah mengenali perasaannya sendiri. Min Seok memang menyukai Ju Hee.

***

“Love has no reason, no meaning, and no explanation. A million poems have been written. A million songs have been sung. And yet, we still can’t explain it.” – Olianna Portroy.

.

END

Iklan

4 pemikiran pada “Love Has No Reason

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s